My concern

Wednesday, April 12, 2006

Beragama Dengan Sikap ‘Tahu Diri’ (2)

Selama ini kita ‘berharap’ seluruh ketekunan kita dalam melaksanakan ibadah-ibadah ritual akan membuat hidup kita bahagia, kita ‘menuntut’ agama akan selalu memberikan rasa aman, damai, dan tentram dalam jiwa, baik itu ketika kita tertimpa suatu musibah ataupun tidak. Tapi pada kenyataannya kita malah didera stress yang datang silih berganti melalui berbagai persoalan hidup. Hal ini karena pendekatan kita dalam beragama masih jauh dari sempurna. Padahal merasa bahagia dan tentram dalam beragama adalah dengan selalu menumbuhkan sikap ‘tahu diri’ untuk sabar, syukur dan pasrah sebagai makhluk Allah. Ketika kita harus mengerjakan shalat, atau berpuasa dan ibadah-ibadah ritual lainnya, kita jangan menganggap hal itu sebagai beban yang harus dijalani, karena kenikmatan dan kesenangan yang Allah telah berikan kepada kita jauh lebih besar dibanding kewajiban dalam melaksanakan perintah-perintah agama tersebut. Jadi kalaupun setelah memenuhi semua kewajiban agama tersebut kita masih menghadapi persoalan-persoalan hidup yang berat, kita syukuri saja karena toh dosa-dosa yang telah kita lakukan kepada Allah jauh lebih besar dibanding cobaan-cobaan hidup yang kita jalani. Dengan demikian rasa syukur dan pasrah dalam jiwa kita sebagai ekses dari sikap selalu ‘tahu diri’ kepada Allah, akan menjadi point bagi kita dalam mengurangi dosa-dosa kita yang telah tercatat dalam buku-buku para malaikat penjaga kita.

Sebenarnya untuk selalu melibatkan rasa syukur dan pasrah atas ‘kehadiran’ Allah dalam setiap sisi kehidupan kita, tidaklah mesti melalui persoalan-persoalan berat yang menimpa kita. Setiap persoalan-persoalan kecil sehari-hari bisa kita jadikan media untuk melatih menumbuhkan sikap ‘tahu diri’ kita sebagai hamba Allah yang akan melahirkan rasa sabar, syukur dan pasrah kita kepada Allah. Misalnya, ketika kita sedang menggoreng makanan di dapur, pernahkah kita mengasosiasikan panasnya minyak yang meletup-letup di hadapan kita sebagai neraka di alam akhirat nanti? Padahal panas api di bumi ini belum ada apa-apanya dibanding panas api di neraka nanti.Kalau kita mengingat hal ini maka akan tumbuh rasa untuk bersikap sabar serta syukur bahwa Allah masih memberikan kita umur untuk memperbanyak amal-amal soleh agar sekuat tenaga kita dapat terhindar dari panasnya api neraka, dan berpasrah diri pada kehendak Allah atas amal-amal yang telah kita perbuat tersebut. Atau ketika kita selalu dibebani beban pekerjaan kantor yang berat-berat, yang membuat penat tenaga dan pikiran sementara penghasilan kita pas-pasan, apakah kita pernah mengingat bahwa ribuan bahkan jutaan orang lain justru tidak memiliki pekerjaan yang nota bene juga tidak memiliki penghasilan seperti kita ? padahal mereka juga memiliki keluarga yang juga menjadi tanggungan hidup mereka? Kalau kita mengingat hal ini semua betapapun beratnya pekerjaan yang dijalani kita akan selalu bersabar untuk kemudian menumbuhkan rasa syukur buat kita, dan kemudian kita akan berpasrah kepada ketentuan Allah dengan harapan bahwa segala yang kita lakukan itu akan selalu bernilai ibadah buat kita, amiin.

Terakhir akan diceritakan contoh seorang sosok manusia yang betul-betul memiliki sikap ‘tahu diri’ yang tinggi sebagai hamba Allah yang kemudian menumbuhkan sikap sabar, syukur, dan kepasrahan total hanya kepada Allah Azza wa jalla: Dahulu di zaman Harun al-Rasyid, terdapat seorang perdana menteri yang bernama Al-asma’i. Suatu hari ia pergi berburu ke padang pasir. Di suatu tempat ia terpisah dengan kafilahnya. Ketika ia berada di tengah-tengah sahara dalam keadaan kehausan dan kepanasan. Lalu ia melihat ada sebuah kemah di tengah-tengah padang sahara. Ia berjalan mendekati kemah. Ia melihat di dalam kemah itu ada seorang perempuan muda yang sangat cantik.

Perempuan itu sendirian. Ketika perempuan itu melihat Al-Asma’I mendekati kemah, ia mempersilahkannya untuk masuk ke kemahnya dan menyuruhnya duduk di tempat yang agak jauh darinya. Al-Asma’I berkata kepadanya,”tolong beri aku air minum.” Wajah perempuan itu berubah. Ia berkata, “Sungguh, aku tidak bias memberikan air kepadamu sebab suamiku tidak mengizinkanku untuk memberikan air kepada orang lain. Tapi aku punya bagian makan pagiku, yaitu susu. Aku tidak makan dan kau boleh meminumnya.” Lalu Asma’I meminum susu itu dan perempuan itu tidak berbicara padanya. Tiba-tiba ia melihat perempuan itu berubah wajahnya. Dari jauh ia melihat ada titik hitam mendekati kemah. Perempuan itu berkata, “Suamiku telah dating.” Perempuan cantik itu membawa air dan pergi keluar dari kemahnya. Ternyata suaminya yang dating itu adalah orang yang hitam, tua, dan berwajah jelek. Perempuan itu membantu kakek tua itu dari untanya; lalu ia basuh dua tangan dan kaki suaminya dan dibawanyalah masuk ke dalam kemah dengan penuh penghormatan. Kakek tua itu sangat buruk akhlaknya. Ia tidak menegur sedikitpun kepada Al-Asma’i. Ia mengabaikan tamu dan memperlakukan istrinya dengan kasar. Al-Asma’I sangat benci kepadanya. Ia berdiri dari tempat duduknya dan pergi keluar rumah.

Perempuan itu mengantarkan Al-Asma’I keluar. Saat Al-Asma’I bertanya kepadanya, “Saya menyesalkan keadaanmu.”Kamu, dengan segala kemudaan dan kecantikanmu, sangat bergantung kepada orang seperti dia. Untuk apa kamu bergantung kepada dia? Apakah karena hartanya? Sedangkan ia orang miskin. Karena akhlaknya, sedang akhlaknya begitu buruk. Atau kamu tertarik kepada dia karena ketampanannya? Padahal ia seorang tua yang buruk rupa. Mengapa kamu tertarik kepadanya?” Wajah perempuan itu pucat pasi. Lalu ia berkata dengan sangat keras, “Hai Asma’I, akulah yang menyesalkan kamu. Aku tidak menyangka seorang perdana menteri Harun al-Rasyid berusaha menghapuskan kecintaanku kepada suamiku. Wahai Asma’I, tidakkah kau tahu mengapa aku melakukan semua itu? Aku mendengar Nabi yang mulia bersabda:’ Iman itu adalah setengahnya kesabaran dan setengahnya lagi adalah syukur.’ Aku bersyukur kepada Allah karena dikaruniai kemudaan, kecantikan, dan akhlah yang baik. Aku ingin menyempurnakan setengah imanku lagi dengan kesabaran dalam berkhidmat kepada suamiku.” (Jalaluddin Rakhmat, Meraih Cinta Ilahi). Dalam kedudukannya sebagai hamba Allah perempuan ini memiliki sikap ‘tahu diri’ yang sempurna. Ia, dengan segala kemudaan, kecantikan, dan kemuliaan akhlaknya tidak lantas merasa ‘wajar’ kalau dia mendapatkan pendamping yang kaya, tampan, serta mulia akhlaknya. Tapi semua anugerah yang telah Allah berikan kepadanya itu dia tanggapi dengan rasa syukur yang mendalam, dan bersikap sabar atas segala ketentuan Allah yang berlaku kepadanya sehingga mengantarkannya kepada keimanan yang sempurna. Dalam penjelasannya Kang Jalal mengatakan bahwa hadits ini jangan dilihat dari perspektif feminis. Pandanglah sebagai kecintaan seorang istri yang dengan sabar berkhidmat kepada suaminya.

Beragama Dengan Sikap ‘Tahu Diri’ (1)

Menjalani hidup sesuai dengan ruh agama Allah kadang dianggap oleh sebagian dari kita sebagai sesuatu yang berat. Anggapan ini memang tidak sepenuhnya salah, karena kalau pendekatan kita dalam memahami agama hanya melulu sebagai aturan ritual dari a sampai z yang mesti dijalani, niscaya pelaksanaan kehidupan keberagamaan kita akan terasa berat. Sebagai contoh untuk aturan pengerjaan ibadah salat saja kita perlu berbab-bab untuk menelaahnya belum lagi aturan-aturan ibadah ritual lain seperti halnya ibadah puasa, bertaharah, berhaji dan lain-lain.Sementara setiap ritual yang kita jalani harus dilakukan secara sungguh-sungguh dengan sebenar-benarnya sesuai aturan yang telah ditetapkan. Kalau pemahaman kita dalam beragama seperti ini dijalani, sudah pasti hidup akan terasa lelah.Karena untuk persoalan-persoalan sehari-hari yang kita jalani saja kita membutuhkan pikiran dan tenaga ekstra untuk menjalaninya belum lagi sekian kewajiban keagamaan yang mesti kita jalani. Pada akhirnya kita akan mengalami suatu kondisi psikologis dimana orang mengatakannya sebagai stress beragama.Untuk menghindari kondisi mental seperti ini kita perlu merubah pendekatan keagamaan yang selama ini kita jalani. Karena boleh jadi stress yang kita alami disebabkan oleh pendekatan kita dalam beragama yang belum tepat.

Dalam perkembangan sejarah Islam, banyak berkembang berbagai macam pendekatan keagamaan yang semuanya bertujuan untuk mencapai kesempurnaan dalam beragama atau berislam. Salah satunya yang paling fonomenal dan spektakuler adalah pendekatan spiritual yang lebih dikenal dengan nama tasawuf atau sufistik. Tentang bagaimana tasawuf atau sufistik itu, kita tidak akan membahasnya di sini. Hanya saja pendekatan secara spiritual ini akan memberikan peluang kepada kita untuk memaknai seluruh kegiatan yang setiap hari kita jalani (tidak hanya ibadah ritual saja) dengan pandangan berketuhanan.Di antara sekian banyak nilai di dalam tasawuf yang kita kenal, ada beberapa nilai yang bisa kita terapkan sebagai cara dalam pendekatan keagamaan kita. Diantaranya yaitu nilai qana’ah (bercukup diri), saya lebih menyukainya dengan ‘tahu diri’, nilai ini akan melahirkan sikap sabar, syukur dan kepasrahan kepada Allah secara total dan sungguh-sungguh. Dihampir sekian banyak kisah-kisah sufistik, nilai ini selalu dijadikan landasan sebagai rasa dan gairah keberagamaan kita sebagai seorang muslim.

Selama ini mungkin kita mengingat Allah hanya dalam situasi dan kondisi keagamaan saja. Sebagian dari kita mungkin mengenal istilah ‘tahu diri’ sebagai hamba Allah yang kecil dan tidak berarti apa-apa hanya ketika kita shalat, atau ketika kita puasa, atau ketika kita sedang mendengarkan ceramah keagamaan. Namun ketika kita, bagi kaum ibu misalnya, merawat anak yang sulit diatur, mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga yang seperti tiada akhirnya, melayani kebutuhan suami, sementara sang suami sibuk atau bahkan asyik dengan dunia kerja yang juga seperti tidak ada akhirnya, apakah nilai ‘tahu diri’ yang akan melahirkan rasa sabar, syukur dan kepasrahan kepada Allah masih kita terapkan? Jawabannya mudah saja, apabila kita selalu mengalami stress dengan semua persoalan itu, berarti pendekatan kita dalam memahami agama selama ini masih jauh dari yang kita harapkan. Tapi apabila kita merasa ‘baik-baik’ saja dengan semua persoalan yang kita hadapi, berarti pendekatan kita dalam beragama sudah jauh lebih baik. Dan artinya secara sadar atau tidak kita telah menerapkan nilai ‘tahu diri’ sebagai hamba Allah ini dalam seluruh aktifitas keseharian kita.


Beberapa ilustrasi mengenai pentingnya nilai ‘tahu diri’ yang akan melahirkan sikap sabar, syukur dan kepasrahan ini diantaranya misalnya, ketika kita dikecewakan seseorang apakah itu oleh suami atau istri, pernahkah kita lantas mengingat dosa-dosa kita yang telah kita lakukan di masa lalu, kalau kemudian kita mengingatnya, pernahkah kita merasa ‘tahu diri’ bahwa Allah jauh lebih pantas memberikan cobaan ataupun ujian yang berat kepada kita karena dosa-dosa kita di masa lalu itu dibanding cobaan yang hanya berupa kekecewaan kita disebabkan oleh ulah seorang suami atau istri? Kalaupun kita lantas mengingat hal ini pula, sungguh setiap cobaan, ujian, ataupun musibah akan selalu kita sambut dengan rasa sabar dan syukur yang mendalam kepada Allah, karena dari sini kita selalu disadarkan bahwa setiap persoalan yang kita hadapi adalah selalu ringan dibandingkan dengan semua dosa-dosa yang telah dan selalu kita perbuat kepada Allah. Dari sini akan muncullah kepasrahan kita untuk menyerahkan semua penyelesaian persoalan-persoalan kita hanya kepada Allah semata, maka plong-lah sudah dada ini untuk menjalani kegiatan-kegiatan hidup selanjutnya.


Selama ini kita ‘berharap’ seluruh ketekunan kita dalam melaksanakan ibadah-ibadah ritual akan membuat hidup kita bahagia, kita ‘menuntut’ agama akan selalu memberikan rasa aman, damai, dan tentram dalam jiwa, baik itu ketika kita tertimpa suatu musibah ataupun tidak. Tapi pada kenyataannya kita malah didera stress yang datang silih berganti melalui berbagai persoalan hidup. Hal ini karena pendekatan kita dalam beragama masih jauh dari sempurna. Padahal merasa bahagia dan tentram dalam beragama adalah dengan selalu menumbuhkan sikap ‘tahu diri’ untuk sabar, syukur dan pasrah sebagai makhluk Allah. Ketika kita harus mengerjakan shalat, atau berpuasa dan ibadah-ibadah ritual lainnya, kita jangan menganggap hal itu sebagai beban yang harus dijalani, karena kenikmatan dan kesenangan yang Allah telah berikan kepada kita jauh lebih besar dibanding kewajiban dalam melaksanakan perintah-perintah agama tersebut. Jadi kalaupun setelah memenuhi semua kewajiban agama tersebut kita masih menghadapi persoalan-persoalan hidup yang berat, kita syukuri saja karena toh dosa-dosa yang telah kita lakukan kepada Allah jauh lebih besar dibanding cobaan-cobaan hidup yang kita jalani. Dengan demikian rasa syukur dan pasrah dalam jiwa kita sebagai ekses dari sikap selalu ‘tahu diri’ kepada Allah, akan menjadi point bagi kita dalam mengurangi dosa-dosa kita yang telah tercatat dalam buku-buku para malaikat penjaga kita.


Sebenarnya untuk selalu melibatkan rasa syukur dan pasrah atas ‘kehadiran’ Allah dalam setiap sisi kehidupan kita, tidaklah mesti melalui persoalan-persoalan berat yang menimpa kita. Setiap persoalan-persoalan kecil sehari-hari bisa kita jadikan media untuk melatih menumbuhkan sikap ‘tahu diri’ kita sebagai hamba Allah yang akan melahirkan rasa sabar, syukur dan pasrah kita kepada Allah. Misalnya, ketika kita sedang menggoreng makanan di dapur, pernahkah kita mengasosiasikan panasnya minyak yang meletup-letup di hadapan kita sebagai neraka di alam akhirat nanti? Padahal panas api di bumi ini belum ada apa-apanya dibanding panas api di neraka nanti.Kalau kita mengingat hal ini maka akan tumbuh rasa untuk bersikap sabar serta syukur bahwa Allah masih memberikan kita umur untuk memperbanyak amal-amal soleh agar sekuat tenaga kita dapat terhindar dari panasnya api neraka, dan berpasrah diri pada kehendak Allah atas amal-amal yang telah kita perbuat tersebut. Atau ketika kita selalu dibebani beban pekerjaan kantor yang berat-berat, yang membuat penat tenaga dan pikiran sementara penghasilan kita pas-pasan, apakah kita pernah mengingat bahwa ribuan bahkan jutaan orang lain justru tidak memiliki pekerjaan yang nota bene juga tidak memiliki penghasilan seperti kita ? padahal mereka juga memiliki keluarga yang juga menjadi tanggungan hidup mereka? Kalau kita mengingat hal ini semua betapapun beratnya pekerjaan yang dijalani kita akan selalu bersabar untuk kemudian menumbuhkan rasa syukur buat kita, dan kemudian kita akan berpasrah kepada ketentuan Allah dengan harapan bahwa segala yang kita lakukan itu akan selalu bernilai ibadah buat kita, amiin.


Terakhir akan diceritakan contoh seorang sosok manusia yang betul-betul memiliki sikap ‘tahu diri’ yang tinggi sebagai hamba Allah yang kemudian menumbuhkan sikap sabar, syukur, dan kepasrahan total hanya kepada Allah Azza wa jalla: Dahulu di zaman Harun al-Rasyid, terdapat seorang perdana menteri yang bernama Al-asma’i. Suatu hari ia pergi berburu ke padang pasir. Di suatu tempat ia terpisah dengan kafilahnya. Ketika ia berada di tengah-tengah sahara dalam keadaan kehausan dan kepanasan. Lalu ia melihat ada sebuah kemah di tengah-tengah padang sahara. Ia berjalan mendekati kemah. Ia melihat di dalam kemah itu ada seorang perempuan muda yang sangat cantik.
(Bersambung)

Tuesday, March 21, 2006

Meraih sayap malaikat (1)

Namanya Issac, sebuah nama yang maskulin dan westernized, entahlah kenapa ayahnya memberikan nama itu, padahal jelas dia seorang perempuan dan tidak tomboy pula. Dia ingat ketika menanyakan mengapa ia diberi nama itu, apakah ayahnya pengagum Issac Newton? Ayahnya hanya tertawa,”Apakah kamu ingin nama Lucyana?” giliran dia terdiam. Sudahlah mau Issac, Lucyana, Dian, Wati, what is a name? tiba-tiba dia teringat Shakespeare, dan Issac bukan nama yang buruk.Tapi yang jelas ibunya berbeda dengan sang ayah. “Nama sangat penting, tahukah kamu di padang mahsyar nanti setiap orang muslim akan dipanggil sesuai nama islamnya, dan Issac? Entahlah yakin malaikat tak akan memanggil nama itu.”

Itulah kemudian dia diberi nama belakang Hasny yang berarti kebaikan, menjadi Issac Hasny, paduan nama yang aneh menurutnya, pun menurut teman-temannya. Sepertinya ini merupakan produk dari orang tua yang memiliki latar belakang kontras, ayahnya seorang tentara yang sangat suka musik, dan sering tampil bersama band tentaranya, walau sekarang sudah purnawirawan tapi kecintaannya akan musik tak pernah padam, sementara ibunya turunan keluarga yang sangat nyantri, kakeknya seorang kyai di kampungnya, dan aki buyutnya juga seorang tokoh agama di masa penjajahan Belanda yang kekuatan pengaruhnya di tengah masyarakat jauh di atas seorang wedana. Itulah kemudian juga ia dan saudara-saudaranya menjadi sosok-sosok yang punya rasa musik yang baik plus agamis, setidaknya itulah yang orang-orang katakan.

Sulit rasanya untuk meyakini kepada dirinya sendiri bahwa sejak usia lima tahun ia sudah mengenal baik lagu-lagu Frank Sinatra, Matt Monroe, Perry Como, Andy Williams, Tom Jones, Tony Bennet, Conny Fransis, Elvis Presley, John Denver dan tentu saja The Beatles, dan semua itu masih diingatnya sampai sekarang. Ayahnya sering memutar piringan hitamnya sambil bermain gitar dan bernyanyi, sementara kami anak-anaknya mendengar dengan senang dan sedikit terkagum-kagum. Sementara menjelang waktu shalat tiba ibunya akan menceritakan pedihnya siksa api neraka bila kita lalai menjalankan shalat dan malas mengaji, dan nikmatnya surga sebagai balasan orang-orang yang menjalankan perintah agama. Yang juga selalu teringat dalam kenangan masa kecilnya yaitu ketika setiap kali ibunya menyiapkan sarapan pagi bagi anak-anaknya sebelum pergi sekolah selalu diiringi cerita tentang hebat dan mulianya akhlak Rasulullah SAW, yang membuat saat-saat menunggu sarapan sebagai saat-saat yang menyenangkan plus emosional.

Persoalannya kemudian imajinasinya berkembang beyond she’s age. Selalu ada sesuatu yang kurang ketika teman-teman seusianya asyik main boneka, main rumah-rumahan, atau main petak umpet, ia tidak pernah merasa enjoy, tidak pernah merasa puas, kalau sudah begitu ia lebih suka mengurung diri di dalam rumah mendengarkan lagu-lagu kegemaran ayahnya membiarkan angan-angannya menerawang jauh melintasi savanna di Eropa, sahara di dataran Afrika, laut yang membentang luas, gedung-gedung opera dan ladang-ladang pertanian yang luas seperti di dalam lagu-lagu country. Dan di semua tempat itu ia akan menari-nari sambil berlari-lari, menyatu dengan keindahan alam dan keindahan lagu, imajinasinya semakin membuncah-buncah, tapi tiba-tiba dalam sedetik kemudian api amarah dalam dadanya akan bergemuruh, air matanya tiba-tiba menetes, emosinya mulai gelisah ketika sekilas terlihat dalam tayangan berita di televisi terjadi pemboman di Libya dan keberanian Jendral Khadafi menantang si congkak Amerika, sorot mata pemuda-pemuda Palestina akan kezaliman Israel yang penuh kebencian, kematian presiden Anwar Sadat oleh Ikhwanul Muslimin yang disambut suka cita kakak-kakaknya, vonis mati Salman Rusdie oleh Imam Khomeini… ia memejamkan mata,”Ya rasul saya rindu padamu, tapi saya ingin tertidur sambil memegang ujung jubahmu di padang savanna atau ketika sinar matahari pagi jatuh di atas permukaan air sungai yang jernih seperti dalam lagu John Denver dan bukan di tanah Afganistan” yang menyayat hati, ia mendengus, merintih… dan sebelum sadar sesuatu yang salah bersemayam dalam dirinya ia sudah tertidur pulas

Beranjak dewasa ia mulai menutup auratnya, ini penting pikirnya. Ia tidak terlalu harus berpikir keras kenapa ia harus menutup auratnya, just taken for granted. Ia yakin Tuhan tahu yang terbaik bagi hambanya karena Dia yang menciptakannya. Tapi kemudian kepribadiannya sedikit narsis juga, hal yang tentu ia benci, karena satu butir zarrah kesombongan akan menghambatnya masuk surga. Pernah suatu kali dalam perjalanan Bandung-Jakarta ia mendengarkan musik pop Amerika klasik sembari membayangkan pemandangan sawah dan gunung yang dilaluinya sebagai panggung musik Broadway dan ia sebagai penyanyinya, ha…ha... suatu imajinasi yang konyol sekaligus indah, dan ia berani sumpah tak ada satu orangpun dalam mobil itu yang aktifitas imajinya sehebat ia, hanya saja ia merasa sesuatu yang berkembang dalam pikirannya butuh justifikasi, butuh pembenaran, karena jauh dalam lubuk hatinya angan-angannya yang kadang tak terkontrol akhirnya bermuara pada Tuhan, selalu pada Tuhan, karena keindahan suasananya begitu sempurna, dan bukankah kesempurnaan hanya milik Tuhan. Pastilah ada penjelasan yang masuk akal mengenai hal ini. Untuk itulah ia kemudian tertarik mempelajari filsafat.

Wednesday, March 01, 2006

Meraih sayap malaikat (2)

Mengenal dan berada di lingkungan filsafat ia mengenal Faya, seorang perempuan luar biasa, dan kegelisahannya sedikit terobati akhirnya. Ia selalu mengidentifikasikan dirinya dengan orang lain, untuk itulah dari dulu ia selalu kesulitan bersosialisasi. Tapi dengan Faya ia seperti menemukan dunianya. Sama-sama selalu berimajinasi dengan musik, menyukai sesuatu yang complicated, punya selera yang sama dalam memilih pria. Tapi ada yang lebih gila dari Faya yang tidak dipunyainya yaitu Faya menguasai hampir sebagian besar kitab-kitab Arab klasik, sementara ia sangat buta.

Faya menilai dirinya sebagai orang yang sangat menghargai waktu. Ia hanya terkekeh,“Dari sisi mana kamu menilai saya begitu”.

Ada tiga pengalaman manis yang cukup untuk menilai kamu seperti itu”.

”Pengalaman? Pengalaman apa?”

Pertama, pernah katanya suatu waktu sepulang kuliah kami naik mobil angkutan kota, dan ketika sampai di perempatan lampu merah mobil yang kami tumpangi berhenti di belakang tiga mobil lainnya. Sementara untuk melanjutkan perjalanan kami sebenarnya harus berganti mobil yang hanya berjarak duapuluh meter dari lampu merah, waktu itu ia menghitung-hitung perbandingan lamanya waktu antara menunggu lampu hijau dengan segera turun dari angkot dan berjalan untuk naik ke mobil berikutnya, ternyata menurutnya akan jauh lebih lama untuk menunggu lampu hijau menyala, kemudian ia mengajak Faya segera turun dan berjalan sepanjang dua puluh meter karena akan lebih efisien.

Pengalaman kedua, ketika bermaksud mengunjungi salah seorang teman yang sakit, untuk menuju rumahnya rupanya kami harus melewati pemakaman umum. Dan ketika kami berada di tengah pemakaman itu, tiba-tiba secara spontan saya teringat cerita tentang kecemburuan orang yang sudah mati kepada orang yang masih hidup. “Tentu saja cemburu”, kata Faya.

“Ya, bayangkan, orang yang sudah mati mengandaikan untuk dapat mengucapkan kata Alhamdulillah saja bagi mereka hal itu akan lebih baik daripada dunia dengan seisinya.”

“Ya itu benar”.

“Ya, seharusnya setiap detik yang kita lalui kita isi dengan zikir, sebelum semuanya menjadi sia-sia.”

“Ha…ha…” Faya tertawa sambil mendorong punggungku.

“Dan bagaimana dengan pengalaman ketiga?”

“Hmm..kamu ingat ketika kamu bilang dari sekian kumandang adzan yang kamu dengar hanya kumandang adzan dari stasiun TVRI saja yang kamu suka. Aku tanya apa yang kamu suka dari kumandang adzannya? Kamu jawab karena hanya kumandang adzan orang Mesir itu yang selalu menjadi panggilan kematian bagi kamu!”

“Ha! Itu kata Rabia’ah al-adawiyah, panggilan adzan bagai seruan kematian baginya, aku belum merasakan sedahsyat itu.”

“Persoalannya yang kamu ingat dari seorang Rabi’ah kenapa masalah kumandang adzan itu? Tidak dalam hal lain?”

“Aku tidak tahu”.

“Ya itulah masalahnya, kamu ngerti kan maksudku?”

Dan ia hanya terdiam.

“Bagus juga jadi orang yang menghargai waktu, tapi kuharap kita bisa lebih smart dalam segala hal.” Tiba-tiba pandangan Faya jauh menerawang.”Cobalah lebih fleksibel kalau berhadapan dengan Tuhan, kamu tahu para sufi berjalan di atas kepala para naga dalam menuju Tuhan, dan para ahli hukum itu berjalan berjinjit ketika menuju Tuhan hanya karena takut ada semut yang akan terinjak.”

Ia memandang Faya cukup lama, dan mata Faya tetap menerawang.”Kamu tahu Salman al-Farisi?”.

“Ya, kenapa?”

“Simak saja cara dia berhubungan dengan Tuhan”.

Setelah percakapan itu ia lama tak bertemu Faya lagi. Ya, bagaimanapun hidup akan selalu berubah, dunia kita, lingkungan kita, perasaan kita, emosi kita, dan tentu saja pikiran kita.Tapi fase perjalanan hidupnya dengan Faya sedikit banyak telah membuat persoalan dalam dirinya menemukan titik terang. Sampai akhirnya ia bertemu dengan seorang pria yang kemudian jadi suaminya.

Entah kenapa ia begitu memujanya, sampai ia sedikit khawatir akal sehatnya akan sirna. Ia seperti menemukan dunianya yang kedua setelah hilangnya Faya. Tapi kemudian ini menjadi pergulatan kecemasan yang berkepanjangan yang membuatnya jauh dari dirinya sendiri. Ia tidak bisa smart dan rasional dalam hal ini. Setiap detik, setiap menit, dan setiap jam harus selalu bermakna bagi suaminya. Dan ia benar-benar tersiksa. Dengan Faya semuanya terbingkai dalam persahabatan sehingga ia bisa sesukanya memanfaatkan waktu dengan kreativitasnya, dan seseorang tidak akan terlalu risau bila suatu saat kehilangan sahabatnya. Sementara dengan suaminya semuanya terbingkai dalam cinta, dan tidak ada kreativitas, aturan cinta semuanya begitu jelas, begitu gamblang, melalaikan waktu satu atau dua jam akan membuatnya tersisih dari cinta, dari asmara dan tentu saja dari keintiman dan ia akan sangat merana bila kehilangan cintanya. Rupanya bingkai inilah yang kadang semakin memperparah keanehan imajinasinya.

Angan-angannya tetap menjelajahi savanna hingga sahara, dan musik tetap mengiringi setiap jengkal langkahnya di udara, tapi cinta selalu menarik kembali tangan dan kakinya untuk mengisi tiap detik dan menit dengan sesuatu yang bermanfaat dan bermakna. Terkadang kalau sudah sampai titik kulminasi tertentu, ingin rasanya ia menukar isi kepalanya dengan perempuan-perempuan lain di lingkungannya yang cukup bahagia dengan melakukan segala rutinitas kesehariannya tanpa merasa bersalah dan tersiksa bila tiga atau empat jam di hari ini berlalu begitu saja dengan kekosongan atau kehampaan. Tapi kenapa ia akan dihantui rasa bersalah bila mengalaminya.

Kemudian bila suasananya mulai terkendali dan tenang ia akan kembali bangga dengan penjelajahan imajinasinya sambil sedikit tersenyum kecut bahwa bukankah semua ini pantas disyukurinya. Atau mungkin juga pernyataan Rene Descartes sedikit memberikan justifikasinya bahwa kita semua mempunyai gagasan yang sempurna. Menyatu dalam gagasan itu adalah fakta bahwa wujud sempurna itu pasti ada. Sebab wujud yang sempurna tidak akan sempurna jika ia tidak ada. Pun kita tidak akan memiliki gagasan tentang entitas yang sempurna jika tidak ada entitas yang sempurna. Dan akhirnya kesempurnaan keindahan yang selalu diimajinasikannya pastilah ada, ya pasti ada. Ia kemudian kembali teringat akan Faya.

Kini suaminya menciumnya dengan lembut, selalu ada yang menyejukkan perasaannya bila bibir itu menyentuh dirinya, ia begitu mencair, dan setiap hal itu terjadi sebagian dari keindahan imajinasinya mengungkap ke alam nyata. Sepertinya ia mulai mencapai titik terang yang selalu dikejarnya. Dalam beberapa saat ia kadang tercengang-cengang sendiri ketika merasakan pengalaman masa inkubasi jiwanya dari gagasan imajinasinya kemudian beralih menjadi benar-benar berwujud nyata. Dan inkubasi itu dilalui pergulatan yang benar-benar sengit antara menjadi istri yang shaleh dan sempurna dengan menjadi perempuan anggun yang menari-nari di atas kepala naga. Kini ia mulai memahami bagaimana keindahan yang diimajinasikannya dapat berubah menjadi nyata, sangat nyata, karena inkubasi itu berbuah tangga yang menjulang ke atas hingga mencapai langit ke tujuh. Inilah perjuangannya menekan seluruh keberadaan jiwanya ke titik nol. Karena hanya dengan meniadakan keakuannya sajalah ia dapat melihat perwujudan semua gagasannya. Setidaknya pria yang kini sangat dicintainya menjadi anak tangga pertama yang akan didakinya untuk meraih salah satu bulu dari ujung sayap malaikat yang akan menunggunya di langit ketujuh sana. Ia yakin betul di atas sana ketika semua anak tangga sudah ia daki semua, semua gagasannya betul-betul nyata dan sangat sempurna, indah luar biasa.

Ia bersujud di depan suaminya, mencium kakinya. “Ya Rasul, tak usahlah dikau risau menyuruh seorang perempuan bersujud di kaki suaminya, karena hati seorang perempuan yang dipenuhi gagasan cinta dan keindahan akan selalu melihat Tuhan di setiap ruang dan masa.”

Yanti Muchtar, Maret, 2006

Saturday, January 14, 2006

Seorang Perempuan dan Permainan Takdir

Rumahnya sangat sederhana, berdinding batako yang dibiarkan kasar, berlantai tanah, dua kamarnya tanpa jendela dan luasnya hanya lima meter persegi, gelap dan pengap, saya sendiri yang menghabiskan masa kecil hingga dewasa di lingkungan sederhana di negara berkembang Indonesia sulit untuk memahami kalau ini benar-benar rumah tinggal.Di sampingnya mengalir sebuah kali yang menjadi sangat vital bagi komunitasnya, mandi, mencuci, buang hajat. bahkan untuk memancing ikan yang akan menjadi lauk teman nasi tepat nanti makan siang atau makan sore? Entahlah yang jelas sepertinya makannya hanya sekali sehari, suasananya sangat ramai, kegaduhan anak-anak dan obrolan para wanita paruh baya dengan tawanya yang melengking lepas nyaris tanpa beban.

Saya jadi teringat kalau sejarah kehidupan manusia memang selalu menjadi semarak di wilayah sekitar kali, sungai, atau laut. Di Amerika misalnya walaupun ibukotanya Washington DC, tapi siapa yang tak kenal New York, atau Mesir dengan Sungai Nil-nya, atau Hongkong, Singapura, dan kota-kota pelabuhan lainnya. Semaraknya mungkin sama, dan unsur ‘air’ yang menyemarakkannya juga sama, tapi ketika saya berada di sini merasakan atmosfir lingkungan kali ini, aura yang muncul jelas tidak akan sama dengan kota-kota ‘sekitar air’ yang tiba-tiba muncul dalam khayalan saya perbedaanya mungkin seperti ketegangan yang ekstrim dan kontras ketika saya memegang kekeran mainan dengan teleskop terbaru NASA Spitzer. Ini perbedaan yang saya imajinasikan tentu, saya tahu kecanggihan Spitzer seolah saya tahu bagaimana ketegangan ketika pertama kali menyentuhnya.


Seandainya manusia diberi kemampuan untuk bisa membaca takdir perjalanan hidupnya, saya tentu tidak akan bertanya-tanya kenapa sekarang saya berada di sini berjalan bersama dengan para perempuan dengan anak- anak mereka, berjalan dengan sangat hati-hati agar tidak tergilincir di atas tanah yang licin dan basah, kami bersama-sama berniat menjenguk seorang perempuan yang tadi malam baru saja melahirkan anaknya yang ke delapan. Tiba-tiba kepalaku terasa berat dan pusing, kedua putriku memegang erat ujung bajuku karena tanganku secara reflek memegang sebuah patok kayu untuk menopang tubuhku agar tidak jatuh.

Ah, siapa perempuan ini? Kenapa takdirku mengharuskan saya bertemu dengannya dan bayinya, yang jelas kata Enstein: ‘Tuhan tidak sedang bermain dadu’, maksud saya kenapa situasinya seperti ini? Dulu ketika saya masih menikmati masa-masa kuliah, di usia saya sekarang ini saya membayangkan situasinya akan berada di suatu ruangan yang dikelilingi buku-buku filsafat yang mengasyikan, dan kini saya harus menjalani takdirku yang sungguh berat, menjenguk bayi ke-delapan dari seorang perempuan yang bukan siapa-siapa, kenapa berat? Karena kalau maksudku ‘perempuan yang bukan siapa-siapa’ itu berarti dia memiliki kesalehan yang luar biasa, ini hanya konotasi provokatif yang saya gunakan ketika berdialog dengan Tuhan dalam memusyawarahkan takdir saya ke depan. Dan saya paling tidak mampu berhadapan dengan perempuan shaleh, yang punya wilayah hati yang luar biasa luas, saya selalu takut kalau dalam perjalanan hidup saya akan mengalami fase-fase dimana Tuhan akan menyindir saya melalui perempuan-perempuan seperti ini. Memang Tuhan tahu betul cara melemahkan godaan dan obsesi dalam daya khayal saya akan hidup dan takdir manusia, tidak serumit dekontruksi filsafat Derrida tapi cukup tengoklah perempuan dan bayinya itu!

Tanpa sadar saya sudah duduk di rumah itu, aroma tanah dan udara yang apek membuat perasaanku sedikit cemas, haruskan dimulai dengan gambaran seperti ini Tuhan? Baiklah ini kekalahan pertama saya, dia luar biasa mungkin saya tidak akan sanggup hidup dalam udara dan suasana seperti ini.

“Mana bayinya?”, lamunanku pecah ketika

Asti tetanggaku menanyakan bayi yang tidak terdengar suara maupun fisiknya, sungguh tempat tinggal yang gelap sedikit sekali cahaya yang masuk, padahal di luar matahari cukup terik. Tiba-tiba perempuan itu mengangkat sebuah plastik yang biasa digunakan penutup becak (agar penumpangnya tidak kehujanan) dari pojok lemari bayi itu diangkat dengan alas plastiknya dengan gerakan seperti mengangkat bakul nasi ke hadapan kami.

“Ini bayinya, sedang tertidur pulas”.

Pandangan matanya memancarkan kelelahan yang amat sangat setelah tadi malam berjuang merasakan sedikit kengerian sakratul maut, dan dia begitu gugup menerima kedatangan kami. Suasana hening sejenak. Kunjungan ini seperti ritual sosial yang harus dijalani, kami berlima dengan anak-anak kami tinggal di perumahan karyawan yang dibatasi pagar kawat dengan penduduk kampung sekitar, tidak ada yang merasa terpaksa dengan ritual ini, ini semacam kewajiban di antara hubungan kemanusiaan, sudah terpatri di bawah alam sadar kita. Kunjungan ini bukan bagian dari permainan, ini hanya sarananya.

Saya pandang bayi itu, benar dia tertidur pulas, seorang bayi yang lucu dan sehat, beratnya 4 kilogram, ukuran fantastis untuk seorang bayi yang kelahirannya ke dunia hanya dibantu dukun kampung. Saya jadi teringat seorang teman saya yang mempersiapkan kelahiran bayinya dengan mengkaji dan mempraktekkan buku kehamilan dari masa tri semester pertama hingga masa kontraksi intens, dan berat bayinya hanya 2,9 kilogram!

“Bagaimana rasanya melahirkan anak ke-delapan? Dan bayinya sehat begini.” Saya mencoba mencairkan keheningan, sebenarnya mencairkan kegelisahan saya juga akan kekalahan pertama.

“Alhamdulillah, tidak begitu berat, sama seperti kakak-kakaknya yang lain, mungkin karena saya orang yang tidak punya jadi anak-anak saya lahirnya tidak ada yang merepotkan”. Seandainya hati saya merupakan mesin grafik yang dapat terlihat monitornya, mungkin ada garis yang tiba-tiba melompat naik setelah dari tadi gerakannya hanya lompatan-lompatan lemah, garis itu adalah perasaan kemenangan pertama dalam permainan takdir ini. Kemenangan? Ya, perempuan itu seharusnya tidak bicara seperti itu, kefakiran bukan sebuah excuse untuk berhak menjustifikasi diri agar berhak mendapatkan ‘kesempurnaan’ lain setelah kemiskinan menderitakannya. Apa yang akan dikatakannya seandainya posisi anaknya ketika lahir sungsang semua, atau ada beberapa anaknya yang cacat? Tidak,tidak, hati-hatilah dengan sezarah saja rasa ujub dalam hati! Walau intonasi nada diucapkan dengan sebersahaja mungkin.

“Ibu tidak KB?” ada yang bertanya lagi, rupanya Rina yang dari tadi duduk di pojok dekat pintu, dia memang mengidap asma, udara rumah ini sudah pasti sangat mengganggu pernafasannya, terpaksa dia duduk di tempat yang udaranya tidak terlalu pengap. Yap, pertanyaan yang sepertinya sudah di duga dan sedikit basi bagi perempuan itu. Tapi bagi saya dan yang lain ini adalah pertanyaan inti, pertanyaan ini mewakili antara nilai kepasrahan, ketulusan, keridaan dengan nilai hipokrasi, konsep ikhtiar, apologia, dan argumen-argumen keagamaan yang ditafsirkan senyaman mungkin antara perempuan dengan sang Khalik. Pokoknya jawaban perempuan itu akan sangat menentukan garis grafik dalam mesin monitor hati saya. Apakah saya akan jadi pemenang atau pecundang.

“Kebetulan kaki saya ada varises, jadi saya tidak mungkin kalau harus KB suntik, Dokter menyarankan pasang spiral, tapi saya tidak mau”.

“Kenapa? Suaminya mengharamkan ya?” Sedikit menebak, tiba-tiba Asti melibatkan suaminya.Suami perempuan itu seorang ustad kampung dengan penghasilan tidak seberapa. Pendapatannya hanya mengandalkan infaq dari beberapa acara keagamaan yang cukup jarang dikampungnya.

“Ah, bukan begitu tapi kalau ada benda asing yang tersimpan dalam tubuh saya, saya takut nanti akan jadi penyakit, banyak kejadian yang sudah-sudah seperti itu, jadi yaa..kalau masalah hamil mah itu pemberian Allah yang kita tidak berdaya menolaknya, ada yang pengen hamil tapi belum dikasih juga, ada yang tidak mau eh..dikasih lagi, dikasih lagi, yaa..saya mah pasrah saja semoga semua jadi anak yang soleh, amiin…” Semuanya terdiam. Tidak ada seorangpun di antara kami yang mencapai nilai kepasrahan setingkat ini. Sementara saya mulai gelisah lagi. Garis grafik perlahan turun kembali melemah dan melemah, saya benar-benar pasrah. Tapi saya cukup tahu diri untuk tidak menyamakan tingkat kepasrahan saya dengan perempuan ini. Saya mungkin hanya kekeran mainan dan dia telescop Spitzer. Dia mungkin bisa memahami apa itu takdir walau dibatasi jarak ribuan,jutaan, atau bahkan milyaran tahun cahaya. Sementara saya tidak pernah bisa memahami apa itu takdir sekalipun melalui persembahan pemikiran yang luarbiasa dari seorang filosof sekalipun.

Setelah berpamitan dan memberikan sejumlah uang untuk keperluan sang bayi, kami kembali pulang dengan pemikiran yang berkecamuk di otak masing-masing. Tidak ada yang mencoba memulai pembicaraan. Walaupun menjadi pecundang lagi saya lebih tenang sekarang. Setidaknya saya mulai memahami jalan permainan takdir saya. Saya tahu sosok perempuan yang akan saya hadapi pada permainan berikutnya adalah diri saya sendiri, dan saya begitu yakin saya akan memenangkan permainannya.

11 January 2006
the day before my birthday

Friday, August 26, 2005

silent

Di dunia sufi diam (tidak banyak bicara) merupakan salah satu langkah menuju Tuhan. Imam Ghazali pernah menceritakan ada seorang yang saleh yang hanya mau berbicara setelah shalat isya, menurut kang jalal orang itu menekan diamnya sampai pada titik nol.

Ketika bersosialisasi sikap diam tentu akan menjadi sesuatu hal yang kita hindari, berbicara, ngobrol, chit-chat, ha-ha hi-hi, dll merupakan media kita bergaul dengan lingkungan. Tapi apakah itu suatu keharusan?
Saya dikenal orang sebagai orang yang tidak banyak bicara, ini memang dari sononya..jadi tidak ada usaha untuk menekan diam saya seperti yang dilakukan para sufi he..he.tapi ketika bergaul ini tentu jadi masalah juga, saya sering dibilang sombong, judes, atau cuek gitu...my beloved husband juga bilang kalau saya ini orangnya malas ngomong hey..please take me as I am dear:-)
katanya, ketika kita menekan mulut kita untuk diam, kita memberi kesempatan hati kita untuk berbicara, kalau hati yang berbicara kita akan lebih peka terhadap kesalahan diri-sendiri hmm. Tapi masalahnya benarkah dengan diamnya sifat saya, saya lebih peka terhadap kesalahan saya sendiri?? ..I don't think so, not yet, someday I will, of course.
Apakah saya perlu risau dengan hal ini? Ah.. tidak juga, saya selalu berharap saya bisa mensyukuri apapun yang telah Allah anugrahkan. Watak diam saya mudah-mudahan bisa membawa kebaikan bagi saya dan orang lain, Dan Allah pun lebih tahu apa yang tersembunyi di balik hati setiap hambanya.. jadi sombong.. judes.. who cares.. Yang penting hatiku selalu belajar untuk tawadhu. amiin..........

Wednesday, August 24, 2005

Maafkan aku Alisya

Nabi yang mulia pernah marah ketika suatu kali seorang sahabat merenggut anaknya yang masih balita dari pangkuan beliau hanya karena si anak buang air kecil di pangkuan beliau dan membasahi pakaiannya yang suci. Si sahabat dengan heran menanyakan mengapa Nabi bersikap marah karena dia merasa tindakannya dengan benar. Rasul menjelaskan dengan dicuci baju yang basah bisa jadi bersih kembali, tapi hati anak yang sakit karena terenggut akan berbekas selamanya.
Tadi malam setelah shalat Isya seperti biasa saya melanjutkan dengan shalat witir, anak kedua saya (Syifa) berbaring di pinggir sajadah shalat saya dengan sabar menunggui shalat sampai selesai - ini memang kebiasaannya. Tiba-tiba ketika saya hampir menyelesaikan witir anak pertama saya (Alisya) lari terbirit-birit ingin buang air kecil, dia menangis sambil jongkok dengan ditahan kakinya. Saya mencoba bertahan dalam shalat saya dan tangisnya makin keras. Saya kesal juga karena kebiasaannya menahan-nahan buang air tidak pernah berubah padahal usianya sudah cukup besar (4,5 th).
Karena khawatir dia buang air di situ dan membasahi sajadah akhirnya saya batalkan shalat dan menarik tangannya - cukup keras juga menuju kamar kecil, responnya terlihat kaget dan tentu saja tangisnya makin keras. Setelah beres dia lari ke kamar sambil menangis dan saya lanjutkan shalat saya yang tadi tergangggu. Tiba-tiba saya teringat kisah Rasul di atas dan tidak bisa konsen sedikit pun blong ... resah, gelisah, cemas apakah hati anakku sakit ... uh
Selesai salat saya hampiri dia dan minta maaf atas sikap tadi, dia diam, aku ajak nonton film kesukaannya dia geleng kepala ... dia ingin sendiri katanya ... dia pun tertidur. Semalaman saya sungguh gelisah, film all about eve yang saya tunggu tidak menarik lagi, rasanya ingin cepat2 pagi dan melihat bagaimana reaksinya selanjutnya. Saya hanya ingin mengungkapkan betapa saya menyayanginya. Walau malu pada diri sendiri dan pada Allah tentu saja, saya berusaha menekan guilty feeling saya sekuat mungkin karena saya memang benar2 menyayanginya, kekhilafan itu tak akan merubahnya ... Dikatakan Allah memiliki sekian banyak sifat kasih sayang, dan salah satu perwujudan sifat-Nya adalah sayang seorang ibu terhadap anaknya. Am I a good mother ...
Pagi jam lima lebih dia bangun, memanggil saya dan meminta segelas susu, cepat2 saya buatkan setelah habis sambil senyum dia bilang terima kasih ... duh ... seorang anak begitu suci, begitu lemah, begitu tak berdaya di hadapan manusia dewasa, dia bahkan tak sanggup memahami apa arti marah kepada ibunya yang khilaf ini ...
Maafkan aku anakku!

Tuesday, August 23, 2005

Life is simple

Live is pretty simple and also unpredictable, hidup memang sesuatu yang sederhana dan itulah mungkin yang akan mendatangkan kebahagiaan. Kemarin seperti biasa saya mengantar anak saya pergi ke sekolah (tk), jarak dari rumah ke sekolah lumayan agak jauh juga, walau kadang terasa repot tapi saya selalu merasa detik-detik dari rumah ke sekolah sebagai sesuatu yang sangat penting dan berharga, mungkin karena sekarang era-nya manusia sudah mulai sadar akan pentingnya kebutuhan spiritual selain fisik hmm... Saya seperti ibu-ibu lainnya mungkin merasa risau jika mengamati selama seharian anak kita tidak mendapat asupan intelektual selain asupan gizi tentunya. Saya selalu terangsang untuk mengamati orang-orang di lingkungan saya, misalnya ketika sedang berkumpul dengan sesama orang tua murid kadang2 saya menerka2 apa yang ada di benak ibu-ibu itu ketika mereka mengantarkan anak-anak mereka dengan segala kerepotannya, dibalik sekian sinetron dan telenovela yang mereka perbincangkan apa mereka berpikir seperti yang saya pikir? tidak ada keluh kesah dari mereka, begitu enjoy menunggui mereka hingga pulang. Ah, yang saya tahu keinginan mereka sederhana saja ingin anaknya cepat pintar dan mandiri, that's all. Tapi secara tidak langsung sepersekian persen dari orientasi berpikir mereka sudah cenderung memahami pentingnya asupan otak bagi manusia. Kok saya so intelek banget atau memperumit sesuatu yang sebenarnya sederhana saja ha..ha...

Pulang dari sekolah di dalam angkot di hadapan saya seorang ibu setengah baya terlihat begitu kepenatan dengan sekarung belanjaannya, termasuk kantong2 kecil yang hampir memenuhi setengah kendaraan itu. Raut mukanya yang legam begitu kusut menahan kelelahan dan terik matahari kota Bogor yang cukup panas, mulutnya terlihat komat-kamit seperti berdoa atau berzikir mungkin .. penampilannya terlihat kotor. Saya tak habis pikir bagaimana si ibu itu turun nanti ya? dengan barang sebanyak ini? Di samping ibu itu dua orang pemuda sedang asyik ngobrol dengan bahasa kasar, sesekali mereka memandang ke arah si ibu sambil tertawa ngakak tak peduli orang sekitar, wah ... betul2 pemandangan yang khas dunia ketiga, yang satu begitu kotor dan kelelahan satunya lagi begitu cuek dan tidak beretika. Saya merasa satu-satunya makluk paling beradab di kendaraan itu ughh... Ketika si ibu meminta kendaraan untuk berhenti, tiba-tiba salah satu dari dua orang pemuda tadi mendahului si ibu dan langsung membantu menurunkan barang-barang empunya si ibu yang begitu banyak, si ibu tak henti2nya mengucapkan terima kasih kepada pemuda itu. Saya hanya diam. Sambil senyam-senyum pemuda itu bilang membantu orang tua itu bisa mendatangkan rizki yang barakah, entahlah perkataan itu ditujukan untuk siapa, mungkin untuk temannya yang langsung ikut membantu juga mengangkat karung yang paling besar, mudah-mudahan rizki saya banyak karena ini yang paling berat selorohnya... mereka berdua kemudian tertawa.

Duh, semua yang saya lihat begitu menohok saya, saya yang waktu itu paling beradab mungkin satu2nya orang yang biadab. Tanpa alasan yang jelas saya bersu'udzon kepada dua pemuda itu, tanpa alasan yang jelas juga saya merasa lebih 'berderajat' dibanding si ibu tadi. Mereka sesungguhnya orang-orang dengan jiwa dan pikiran yang bersahaja, tapi tingkat keimanan mereka tak terduga. Seandainya tubuh saya bisa mencair, mungkin saya akan mencairkan diri karena sangat malu pada orang-orang dihadapan saya terlebih padaMu Rabb... Engkau langsung meng-KO kesombongan saya dengan memberi jawaban langsung atas keheranan saya pada seorang ibu yang lemah dengan barang bawaan yang begitu banyak, bagaimana membawanya? Engkau begitu cepat menjawab mulut mulia yang komat-kamit itu dengan bantuan dua pemuda yang tak ber'etika'. Semuanya ada di depan mata saya.. Allahu Akbar!!!