Beragama Dengan Sikap ‘Tahu Diri’ (2)
Sebenarnya untuk selalu melibatkan rasa syukur dan pasrah atas ‘kehadiran’ Allah dalam setiap sisi kehidupan kita, tidaklah mesti melalui persoalan-persoalan berat yang menimpa kita. Setiap persoalan-persoalan kecil sehari-hari bisa kita jadikan media untuk melatih menumbuhkan sikap ‘tahu diri’ kita sebagai hamba Allah yang akan melahirkan rasa sabar, syukur dan pasrah kita kepada Allah. Misalnya, ketika kita sedang menggoreng makanan di dapur, pernahkah kita mengasosiasikan panasnya minyak yang meletup-letup di hadapan kita sebagai neraka di alam akhirat nanti? Padahal panas api di bumi ini belum ada apa-apanya dibanding panas api di neraka nanti.Kalau kita mengingat hal ini maka akan tumbuh rasa untuk bersikap sabar serta syukur bahwa Allah masih memberikan kita umur untuk memperbanyak amal-amal soleh agar sekuat tenaga kita dapat terhindar dari panasnya api neraka, dan berpasrah diri pada kehendak Allah atas amal-amal yang telah kita perbuat tersebut. Atau ketika kita selalu dibebani beban pekerjaan kantor yang berat-berat, yang membuat penat tenaga dan pikiran sementara penghasilan kita pas-pasan, apakah kita pernah mengingat bahwa ribuan bahkan jutaan orang lain justru tidak memiliki pekerjaan yang nota bene juga tidak memiliki penghasilan seperti kita ? padahal mereka juga memiliki keluarga yang juga menjadi tanggungan hidup mereka? Kalau kita mengingat hal ini semua betapapun beratnya pekerjaan yang dijalani kita akan selalu bersabar untuk kemudian menumbuhkan rasa syukur buat kita, dan kemudian kita akan berpasrah kepada ketentuan Allah dengan harapan bahwa segala yang kita lakukan itu akan selalu bernilai ibadah buat kita, amiin.
Terakhir akan diceritakan contoh seorang sosok manusia yang betul-betul memiliki sikap ‘tahu diri’ yang tinggi sebagai hamba Allah yang kemudian menumbuhkan sikap sabar, syukur, dan kepasrahan total hanya kepada Allah Azza wa jalla: Dahulu di zaman Harun al-Rasyid, terdapat seorang perdana menteri yang bernama Al-asma’i. Suatu hari ia pergi berburu ke padang pasir. Di suatu tempat ia terpisah dengan kafilahnya. Ketika ia berada di tengah-tengah sahara dalam keadaan kehausan dan kepanasan. Lalu ia melihat ada sebuah kemah di tengah-tengah padang sahara. Ia berjalan mendekati kemah. Ia melihat di dalam kemah itu ada seorang perempuan muda yang sangat cantik.
Perempuan itu sendirian. Ketika perempuan itu melihat Al-Asma’I mendekati kemah, ia mempersilahkannya untuk masuk ke kemahnya dan menyuruhnya duduk di tempat yang agak jauh darinya. Al-Asma’I berkata kepadanya,”tolong beri aku air minum.” Wajah perempuan itu berubah. Ia berkata, “Sungguh, aku tidak bias memberikan air kepadamu sebab suamiku tidak mengizinkanku untuk memberikan air kepada orang lain. Tapi aku punya bagian makan pagiku, yaitu susu. Aku tidak makan dan kau boleh meminumnya.” Lalu Asma’I meminum susu itu dan perempuan itu tidak berbicara padanya. Tiba-tiba ia melihat perempuan itu berubah wajahnya. Dari jauh ia melihat ada titik hitam mendekati kemah. Perempuan itu berkata, “Suamiku telah dating.” Perempuan cantik itu membawa air dan pergi keluar dari kemahnya. Ternyata suaminya yang dating itu adalah orang yang hitam, tua, dan berwajah jelek. Perempuan itu membantu kakek tua itu dari untanya; lalu ia basuh dua tangan dan kaki suaminya dan dibawanyalah masuk ke dalam kemah dengan penuh penghormatan. Kakek tua itu sangat buruk akhlaknya. Ia tidak menegur sedikitpun kepada Al-Asma’i. Ia mengabaikan tamu dan memperlakukan istrinya dengan kasar. Al-Asma’I sangat benci kepadanya. Ia berdiri dari tempat duduknya dan pergi keluar rumah.
Perempuan itu mengantarkan Al-Asma’I keluar. Saat Al-Asma’I bertanya kepadanya, “Saya menyesalkan keadaanmu.”Kamu, dengan segala kemudaan dan kecantikanmu, sangat bergantung kepada orang seperti dia. Untuk apa kamu bergantung kepada dia? Apakah karena hartanya? Sedangkan ia orang miskin. Karena akhlaknya, sedang akhlaknya begitu buruk. Atau kamu tertarik kepada dia karena ketampanannya? Padahal ia seorang tua yang buruk rupa. Mengapa kamu tertarik kepadanya?” Wajah perempuan itu pucat pasi. Lalu ia berkata dengan sangat keras, “Hai Asma’I, akulah yang menyesalkan kamu. Aku tidak menyangka seorang perdana menteri Harun al-Rasyid berusaha menghapuskan kecintaanku kepada suamiku. Wahai Asma’I, tidakkah kau tahu mengapa aku melakukan semua itu? Aku mendengar Nabi yang mulia bersabda:’ Iman itu adalah setengahnya kesabaran dan setengahnya lagi adalah syukur.’ Aku bersyukur kepada Allah karena dikaruniai kemudaan, kecantikan, dan akhlah yang baik. Aku ingin menyempurnakan setengah imanku lagi dengan kesabaran dalam berkhidmat kepada suamiku.” (Jalaluddin Rakhmat, Meraih Cinta Ilahi). Dalam kedudukannya sebagai hamba Allah perempuan ini memiliki sikap ‘tahu diri’ yang sempurna. Ia, dengan segala kemudaan, kecantikan, dan kemuliaan akhlaknya tidak lantas merasa ‘wajar’ kalau dia mendapatkan pendamping yang kaya, tampan, serta mulia akhlaknya. Tapi semua anugerah yang telah Allah berikan kepadanya itu dia tanggapi dengan rasa syukur yang mendalam, dan bersikap sabar atas segala ketentuan Allah yang berlaku kepadanya sehingga mengantarkannya kepada keimanan yang sempurna. Dalam penjelasannya Kang Jalal mengatakan bahwa hadits ini jangan dilihat dari perspektif feminis. Pandanglah sebagai kecintaan seorang istri yang dengan sabar berkhidmat kepada suaminya.
